Tampilkan postingan dengan label KKN UGM 2016. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KKN UGM 2016. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Desember 2016

Lebih dari Sekadar KKN

Berada di Ilaga benar-benar sebuah perjalanan impian. Bagaimana tidak, sudah semenjak duduk di semester 5, saya mendambakan KKN diluar Jawa, terutama Papua, khususnya Ilaga, setelah diperlihatkan foto-foto di Ilaga oleh dosen yang sedang mengajar di kelas. Pada tahun 2016 ini, keputusan yang saya pilih sama sekali tidak saya sesali. Awalnya agak deg-degan juga akan berada di wilayah yang jauh dan masih zona “merah”. Mana saya seorang perempuan. Orang tua sangat khawatir tentunya. Namun dengan berbagai alasan yang saya berikan, saya bersyukur ternyata memiliki orang tua yang mendukung. Tanggal 18 Juni, berangkatlah saya beserta 24 teman-teman baru dan seorang DPL.

bersama anak Politik dan Pemerintahan 2013 (Kanan Mustika, kiri Agung)

Sebelum pemberangkatan, kelompok kami banyak bertemu dengan kelompok KKN terdahulu untuk mengetahui kondisi lapangan. Berbagai cerita, dari yang susah hingga yang senang, semua diceritakan. Dan dari situ kami mendapatkan gambaran awal tentang bagaimana berinteraksi dengan masyarakat setempat. Harapan minimal, setidaknya kami dapat membaur dengan masyarakat.

Gugup? Jelas. Bagaimana tidak, saya tidak pernah berinteraksi langsung dan intens dengan masyarakat Papua sebelumnya. Dari logat saja sudah berbeda, juga berbagai perbedaan lain antara kami dan mereka. Diawali dengan cara berjabat tangan yang sangat berbeda. Ketika bertemu masyarakat dan hanya berjabat tangan biasa, mereka berkata itu hanya seperti angin lalu. Tidak muncul rasa kedekatan antar manusia. Sering saya akhirnya mengulangi cara saya menjabat tangan, hingga akhirnya ikut terbawa budaya berjabat tangan masyarakat setempat.

“Ko pu tangan boleh” kata salah satu mama yang pernah berjabat tangan dengan saya. Senang sekali rasanya.

Selain berjabat tangan, ada pula adat masyarkat yang masih dilestarikan sampai sekarang. Yaitu bakar batu. Itu bener-bener pecah. Gimana enggak, masyarakat dari jauh sudah “bernyanyi” sebagai penanda bahwa mereka mendekat. Mereka berkumpul di lapangan luas utama Kabupaten Pundak. Bersama-sama, membawa hasil bumi dan babi yang sudah disediakan. Selama ini, saya melihat itu hanya di TV saja. Dan sangat tidak menyangka dapat menyaksikannya langsung, di tempat kejadian. Bertemu juga dengan kepala suku yang masih memakai koteka – dan akhirnya foto bareng. Saya dan beberapa kawan yang ikut menyaksikan di lapangan besar dikira seorang wartawan. Hahaha. Ohiya, saat itu dilakukan dalam rangka memperingati 8 tahun Kabupaten Puncak.


Selain itu, saya dan kawan-kawan mendapatkan kesempatan ikut prosesi bakar batu dari awal hingga akhir di Alomoni – semacam area tempat tinggal keluarga Alom. Kali ini bakar batu dilaksanakan dalam rangka mengucap syukur kepada Yang Masa Kuasa atas berkah yang diberikan dengna hasil bumi yang berhasil mereka panen. Decak kagum saya tiada henti melihat rangkaian prosesinya.

Membakar Batu


Membuat "kolam" untuk masak


This is it the "kolam"

Siapa bilang wanita itu lemah?! Ini hasil buminya

Noken + Rok = Trendy

Siap-siap di masak hasil buminya

Selain itu, saya menemukan bawa di Ilaga itu punya taste of fashion juga lho. Terutama untuk aksesoris. Dan saya kira, mereka jadi terlihat lebih trendy dengan aksesoris yang digunakan. Kalau laki-laki, mereka suka pakai penutup rambut yang dibuat dengan metode pembuatan noken – tetapi hasilnya bukan lah noken, hanya penutup rambut. Biasanya penutup rambut itu untuk laki-laki yang berambut panjang. Ada juga pakai bulu-bulu kasuari sebagai aksesoris kepala. 


Kalung juga sering digunakan, tetapi umumnya mereka membuat Kalung Anggrek dengan taring babi. Kadang ada yang memakai kalung manik-manik juga. Senengnya, saya dikasih satu kalung Anggrek dari seorang Tete (sebutan “kakek” dalam bahasa suku Damal) yang pernah ikut sosialisasi anak-anak kluster Agro. 

Noken – tas rajut ala Papua, juga termasuk jadi salah satu barang pendukung ke-trendy­-an seseorang disana. Noken dada dengan percampuran warna gelap dan cerah kayaknya sedang hits disana. Soalnya banyak banget yang saya temui itu memakai noken warna tersebut. Atau warna putih tulang dengan warna seperti hijau nyeter, dsb. Juga Noken serat kayu yang sangat mahal menjadi kebanggaan tersendiri untuk si pemakainya.

Untuk perempuan, tampil trendy engga cuma dengan aksesoris, tapi juga tatanan rambut dan pakai rok. Salah satu anak didik, Jerince namanya, punya mama yang senang “bereksperimen” model rambutnya. Dari yang macem dikelabang banyak – mereka bilangnya “anyam”, hingga model rambut cepol dua macem Chinese. Pake rok untuk keseharian juga dilakukan. Di Ilaga, perempuan-perempuannya rata-rata bisa kerajinan lho. Anak SD, udah pada pinter bikin gelang dari tali-tali nomor 9 kah, 12 kah. Juga bikin Noken Rajut – karena lebih mudah. Kalo yang agak gedean dikit, biasanya udah jago bikin noken, terutama noken dada. Fyi, ada dua macam noken di Ilaga – mungkin juga di daerah Papua yang lain?. Yaitu Noken rajut – dengan hakpen sebagai alat untuk merajutnya – dan Noken Dada – karena Noken hanya dibuat dengan tangan, dan tangan kita seperti sedang “dada” (seperti kalo kita say good bye ke teman).

Well, sepertinya aku masih kurang banyak menceritakan cultural exposure-ku karena udah agak-agak lupa. Mungkin nanti ada teman-teman KKN-ku yang lebih menjiwai cultural exposure disana, juga bikin tulisan tentang pengalamannya KKN disana. Doakan saja aku semakin rajin menulis, supaya bisa sharing-sharing lagi tentang pengalaman di Ilaga atau di tempat lain mungkin? Kita lihat saja.


Kamis, 29 September 2016

Cerita KKN #1 : Mendarat di Bumi Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua

Kamu KKN dimana?
Ilaga? Dimana e itu?
Wah, jauh banget di Papua. Berapa orang e?
Tidur gimana? Makanan gimana? Masyarakatnya gimana?

Di Ilaga, ditemukan beberapa Honai memiliki aliran listrik dari panel surya
Itu segelintir pertanyaan yang sering ditanyain sama temen-temen atau keluarga atas keputusan yang saya ambil beberapa bulan yang lalu. Keputusan itu enggak tanpa alasan yang kuat.

Tahun lalu, 2015, seharusnya saya sudah mengambil KKN. Dan waktu itu, pertama kali ingin KKN di Papua. Awalnya hanya alasan sederhana : pengen lihat selain Jawa dan yang jauh sekalian. Tetapi menjelang pendaftaran dan "rebutan" kelompok, harapan saya pupus karena terlambat dan akhirnya nggak bisa masuk kelompok KKN Papua. Terlambat karena komposisi anggota kelompok yang dari kluster soshum sudah penuh. Akhirnya sempet mengincipi masuk di tim Kei Kecil, Maluku Tenggara, namun akhirnya pun pupus juga karena mendapat amanah di organisasi kampus.

Memang kayaknya udah jalannya saya, akhirnya pun KKN pada tahun 2016 ini. Antar semester. Bersama teman-teman yang kebanyakan 2013. Awalnya sih agak gimana gitu ya, karena kan dengan adek-adek angkatan. Hahaha. Jadi KSBB sama adek angkatan juga. wk.


JPP bersatu tak bisa dikalahkan!

Di Bandara Timika bersama adek-adek :3
Harapan buat KKN di Papua masih ada. Tapi entah mengapa saya enggak mau terlalu ngongso harus ke Papua. Yang jelas saya ingin sekali KKN di luar Jawa, bahkan saya masukan dalam wish-lists 2016. Banyak pertimbangan untuk KKN di luar Jawa. Dan akhirnya memilih Papua sebagai tujuannya. Sempet juga mau daftar tim lain sih karena takutnya udah enggak diterima. Saat memilih Papua, saya juga liat-liat dulu tema KKN-nya seperti apa. Dan di Ilaga itu temanya tentang Pendidikan dan Pertanian. Wah, saya langsung merasa cocok dengan tema yang diusung. Tertarik banget dengan isu pendidikan, dan mulai tertarik juga dengan isu-isu pertanian. Cocok! Yawes saya langsung daftar aja. Setelah masuk ke tim Ilaga, saya masih diam-diam juga sama orang tua. Hehehe. Takutnya udah khawatir duluan. Fyi, Ilaga itu adalah tujuan KKN tahun 2015, karena pas itu saya udah nanya-nanya teman tentang Ilaga, tentang keadaan geografisnya dsb. Terinspirasi dari dosen saya yang memamerkan foto-foto Ilaga pas di kelas.

Lupa pas lagi di distrik mana. Yang jelas bisa lihat ilaga dari kejauhan

Orang tua sih dukung-dukung aja mau keluar jawa, asal tidak membebani. Secara, kalo KKN jauh kan butuh finansial yang memadahi juga. Akhirnya nyobain part-time di salah satu tempat makan di Jogja, kebetulan saat itu juga lagi libur semester. Biar sekali-kali ngrasain "kerja". Wekekeke. Then, is it enough? Nope. Karena kebutuhannya enggak cuma buat KKN aja. Ada kebutuhan-kebutuhan lain juga ternyata. heuheu. Akhirnya saya pun bikin usaha juga sama kakak buat tambah-tambah. Dan singkat cerita, secara finansial sudah aman.

H-1 keberangkatan, SUPER HECTIC! Packing, packing, packing. Packing barang kluster, packing barang pribadi yang sempet over tapi ternyata setelah nanya-nanya ke teman jadi aman terkendali.

Hari H. SUPER DUPER HECTIC! Pas nimbang barang-barang tim di markas DeRU, ternyata kelebihan bagasinya luar biasa! Ada yang menginisiasi untuk membongkar-bongkar supaya aman. tapi masih over banyak pake banget. Udah pada mikirin biaya kelebihan bagasi juga. Dan kemarin itu sebelum ditimbang di bandara, kelebihannya itu bisa memakan biaya sampe belasan juta rupiah! Bayangkan! Di jadwal penerbangan, kami harusnya berangkat jam setengah 9 malam apa ya. *agak lupa-lupa*. Janjian di Bandara ajm 5 sore. Pas saya sampe Bandara, beeuh, rame banget, Banyak anak-anak KKN yang juga akan berangkat. Udah macem pasar gitu ramenya. Mana hujan lagi. Pas udah pada mau masuk, masih ada beberapa anak yang belum datang juga. Bahkan ketika kita lagi nimbang-nimbang barang. Sempet cemas bangeeett karena ada 1 orang yang perannya sangat penting di tim belum kunjung datang. Astagaa. Then, last minute, dia datang. FIUH! Akhirnya lengkap juga. Dan tentang over bagasi, we're so lucky! ternyata enggak sebanyak yang kami hitung. Masih aman terkendali.

Sambil nunggu boarding, sebelum masuk boarding gate, kami duduk-duduk lesehan macem pengungsi di depan tempat nimbang barang. Hahaha. Kalo udah bareng-bareng gini, mau bertingkah macem pengungsi pun enggak malu-malu. Makan malem dulu.. setelah itu.... setelah kena delay karena cuaca yang tidak mendukung....... akhirnya tiba juga saatnya kami berangkat. Ke Ilaga, Indonesia Bagian Timur.

Rutenya:

JOGJAKARTA - BALI - TIMIKA - ILAGA

Di Bali kami transit aja, sekitar 3 jam. Setelah itu ke Timika. Seminggu sebelum berangkat, kami diminta untuk minum obat anti-malaria karena di Timika itu salah satu daerah yang rawan akan malaria. Tetapi tidak dengan di Ilaga.

Akhirnya, sekitar pukul 2-an pagi, kami berangkat ke Timika. One step closer, baby!!

Sesampainya di Timika, saya "mlipir" ke toilet dulu karea HARUS. hahaha. Tapi, ada satu hal yang mengganjal saya, karena di toilet, baik untuk toilet laki-laki maupun perempuan, disediakan alat kontrasepsi secara cuma-cuma! Tinggal ambil aja. Saya agak amaze tapi syok juga.

Anyway, setelah kami kelar ngurus barang-barang, kami dijemput oleh salah satu pegawai Sekda yang diutus dari Ilaga. Lalu kami langsung diantar ke penginapan. Satu kata untuk Timika : Panasshh. Hahaha. Sama kayak Jogja lah yaa.. Di daerah bandara, ada genangan-genangan air. Saat kami tanya ke pak Supir, beliau bilang itu kubangan bekas tambang Freeport.

Saya menginap di Timika hanya satu malam saja, karena tanggal 20 pagi harus sudah cus. Fyi, kami dapet jatah 2 kloter pesawat. Jadi, saya masuk kloter 1. Barang-barang tim sebagian kami bawa, sebagian lagi dibawa kloter 2.

Dan hari H pun tiba. Pagi-pagi jam 6an kami sudah cus ke bandara. Lumayan deket sih..
Untuk mendapatkan "tiket" pesawat perintis ke Ilaga itu cukup unik. Karena kita enggak dapet tiket macem pesawat-pesawat komersil. Tapi cepet-cepetan wak. Barang-barang ditimbang, pun dengan berat badan! Jadi untuk yang gede-gede itu harus hati-hati bangeeet. hahahah. Canda. Denger-denger sih, biaya naik pesawat dari Timika ke Ilaga itu sekitar 2,5juta cuuyyy. MAHAL BANGET! Untung ditanggung sama pemerintah kabupaten....


Saat masih di Jogja, diceritain betapa deg-deg-annya naik pesawat dari Timika ke Ilaga. Pesawatnya goyang-goyang gitu, katanya. Karena sudah membayangkan kejadian tersebut, awalnya agak takut jugaaaa. Tapi alhamdulillah, kami lancar sekali perjalanan ke Ilaga. Pesawatnya smooooth~. Kami pun enggak lupa untuk mengabadikan perjalanan udara tersebut. Gunung, lembah-lembah-lebah-lembah, banyak banget! Ijo semuaa. Saya kadang berimajinasi : kalo ada orang yang tinggal disitu terus gimana ya? Gunung dan hutan semua...

Pemandangan diatas pesawat perintis
Perjalanan memakan waktu 30 menit saja. Cuaca baik. Di bandara, banyak aparat (tentara) yang bertugas. Bandaranya hanya landasan saja dengan sedikit bangunan. Berada di ketinggian sekitar 2500 dpl. Dan dingiiiin. Enakk. hihihi. Kami dijemput oleh utusan dari Sekda denga mobil 4x4, bak terbuka. Macem adventure bangeeet. hihihi.

Satu kata mendarat di Ilaga : BERSYUKUR. Bersyukur banget di udara tadi lancar, aman, cerah.


Dan kami pun berangkat menuju mes KKN yang sudah disiapkan. Tempat dimana 25 orang akan tinggal bersama, selama 1,5 bulan lamanya...