Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 September 2017

People From Far Away Land

Hi!
It has been a loooong time i didn't write anything. Well, it has been..... 1 year. Was i too busy or was i too lazy? Hahahaha. To my blog reader, please be patient. I got a new kind of spirit to write because i met many people from far away land and they're in Indonesia to travel. And they have some platform they can share their travel with like : blogs, video(youtube) , instagram, or even website.


Well, i help my cousin run her business these days. She made her home into Bed & Breakfast. The name is Antasena Bed & Breakfast. So that's why i can meet many people from far away land. I was very nervous meeting foreign people. But then it a little bit disappear when i joined SSEAYP in 2015, because i had to speak english all the time with another participants. Though the participants were not from english speaking countries, it helped me a lot and improve my ability to speak in english. And today, as i'm doing a kind of "host"-ing, so i met many foreign people and that's make me have to speak english - again. Which is good.

Two Italian Familes
I met many traveler who resign from the job because they want to travel. They left their job,  and some left their home and start travelling. I was wondering how come they do that. And what i found was simple : we only live once. But some also have a heart broken problem and that's why they travel. And recently, i find another reason why people travel, especially with the kids : they want to spend the days with the kids because they didn't have enough time with the kids. So, since the kid didn't go to school yet, they made it into a family trip. It's interesting.

You work hard, you resign, and you travel. And repeat. But yea not all of them are like that. Some traveler have one year off and they travel, and when they go back home, they still have a job. That's more reasonable for me.

Me (right) and My Sister (left)


Me (right. Pardon my face) and the sisters
The different perspective of the way of living is simply amaze me. I mean, there are waaaay different perspectives about it and we live on the same earth. This made me realize that we do live in different way, but it doesn't mean we have to hate each other. This kind of thought i got after i enjoyed talking with the guests. Even with the Indonesians i feel like i can learn a lot of things from them. I even learnt about how the children who have different intelligent couldn't fit to our educational system. A fish can not climb a tree. Turtle can not fly.

The neighborhood country guests

Their kids name was Chiaretta (left) and Titi (right)
Not only about the story behind every person, but being able to explain Jogjakarta's culture and tourism to them is the most important thing. Most of the foreign want to go to Jogja because they want to see Borobudur, which is not in Jogja. And Borobudur itself is not only a statue. It has a big and deep story behind that i've never know (because i've never been there with a tour guide or someone who knows it very well).




And i've just understand this after i met more and more people : If you know more about java, especially Jogja, you'll really interest in it. Not that i'm an ethnocentric, but i think if people understand the big picture of Indonesian's culture which is different in each region, they'll love it. That because culture is not just a statue, nor dance, nor songs. Even more. Culture is embodied in our heart, our behavior, our way of life. Then, i think that, live in a bustling city will create another cultural behavior and of course, the value of life. That's why, you guys, who live in those kind of city, get your ass off the chair and start to have vacation! *note to myself*

Well, it's maghrib already. And i have no idea what kind of story i've written about. Hahaha. It just a random thought that i want to share about with you you you, yes, you! (Dodit's Style)

-- if there is anything wrong about the grammar, let me know! i'm learning to write in english anyway --

Sabtu, 19 Maret 2016

Cerita SSEAYP #6: Tidak Keluar Kok, Hanya Meluaskan Zona Nyaman

Selama ikut program SSEAYP, hal yang sangat mengena didiriku adalah tentang Zona Nyaman. Kenapa? Karena di SSEAYP ini aku benar-benar tau rasanya melakukan hal-hal yang diluar kebisaanku, atau kalau kata orang sih keluar dari zona nyaman. Gimana enggak, lama berkecimpung di dunia olahraga membuatku cukup cuek dengan penampilan. Terutama tentang make up. Bayangin! Yang sehari-hari keringetan dan menghitam karena paparan sinar matahari harus berhadapan dengan make up. Pengalaman ini membuatku harus belajar dan berproses dengan peralatan make up. Alasanku tetap bertahan ya semata-mata untuk Indonesia. Kenapa? karena saat program aku tidak mewakili diriku sendiri, tetapi ratusan juta warga Indonesia. Ya. Mewakili ratusan juta warga negara Indonesia. Apa aku harus menyerah begitu saja dengan kebiasaanku yang sangat amat jarang bersentuhan dengan make up sedang aku menjadi perwakilan negeri? *Duh mulai abot, cah* Meski pada akhirnya aku masih belum bisa makek sendiri bulu mata palsu, tapi setidaknya kalo pake A1 aman lah..


Nggak cukup disitu. Lagi-lagi harus, kalo kata orang sih keluar dari zona nyaman.
Yaps, belajar nari. Ya, NARI, MENARI. Terakhir nari pas masih SD lho. Awalnya ngerasa badan udah kaku kayak kayu (lebay sih ini), tapi beneran deh. Namun dengan tekat yang kuat dan kekuatan menahan rasa malu karena awalnya ngerasa aneh gitu kan, akhirnya pun sikat aja.

Aku yang paling kanan pake kaos hijau

Sebelum berangkat PDT aku difasilitasi sama PCMI Jogja, yang saat itu juga sedang ngefasilitasi temen-temen USINDO, buat latian nari. Tarian anak-anak sih.. cuma untuk orang yang sangat awam dalam menari ya berharga banget latian kayak gini. Start from zero. Mungkin karena memang nggak bakat nari, yang akhirnya aku lakukan adalah "believe and make it happen" aja. Dan selalu inget kata-kata motivasi ini:

Dimana bisa nemu ini? Di DBL Arena, Surabaya. Inget banget pas lagi DBL Camp jaman SMA
AND THIS
Entah masih ada apa enggak tulisan-tulisan itu, tapi ngena banget kalo lagi dalam masa "perjuangan"

Dan... yaps.
Pas program dapet kesempatan untuk ikut nari. Nari Kecak (modifikasi), Nari Maengket dari Sulut, dan nari Kembang Jatoh. Khusus untuk yang kembang jatoh ini yang menurutku berkesan banget. Gimana enggak, tarian ini tarian khas Betawi, yang mana terdiri dari penari laki-laki dan perempuan, dan suasana dari tarian ini ceria dan centil (untuk penari perempuannya) gitu. Pas National Presentation ada 3 Laki dan 3 Perempuan yang nari, dan aku adalah salah satu dari perempuan itu. Ketika latihan, yang hampir selalu dikomentarin adalah "Fik, kurang centil". Dan saat itu juga aku merasa gagal jadi seorang wanita (LEBAY DING). Hahaha.
But the show must go on. Jadi.... aku mencoba yang terbaik yang aku bisa. Mencoba untuk menikmati pertunjukkan. Itu aja yang bisa ku lakukan dengan latihan-latihan yang udah tak lakuin sebelum hari H, yang diajarin sama si Janice, Lingce, dan Ka Quicy

Pas sebelum tampil banget nih. Deg-degan sih. Tapi ya udah lah, enjoy the show! (Lingce kiri, Fika kanan)
Kalo penasaran, bisa cek youtube DISINI

Udah gitu aja? Enggak. Masih ada 1 hal lain yang menarik untukku yang, lagi-lagi, kata orang sih berada diluar zona nyaman. Yaitu...... jadi model pas Voluntary Activity diatas kapal, Fashion Show. Awalnya dipaksa sih, karena... lupa kenapa. Pokoknya dipaksa aja. Tapi akhirnya mau.
Itu juga otodidak dan tanya sama si Akang. Otodidak karena pernah liat adek latian jalan ala-ala model gitu, dan pernah nonton Jogja Fashion Week. Jadi setidaknya tau sedikiiit tentang cara jalan ala-ala model. Dan si Akang ini kan emang Fashion Designer. Jadi pasti tau lah gaya ala-ala model kalo lagi tampil. Dia juga lho yang bikin bajunya. Pake kain-kain yang dipake buat acara exhibition pas di Jepang. Jadi untuk kontingen Indonesia diwakili oleh tiga orang: Mas Alif (Kategori Recycle), Fika (Kategori Prom Night), sama Mia (Kategori Finale). Tapi saat itu, untuk para National Leader juga ikut serta lho.

Untuk Finale, Mia berhasil jadi Juara 2. Aku nggak tau lagi sama Akang dan tim pembuat bajunya. Bisa ya bikin baju pake bahan-bahan kain.....

Juara 2, kategori Finale
Dan untuk kategori Prom Night pun juga Juara 2!!! Aku nggak ngerti lagi bentukku pas jalan tu kayak apa. Aku sih berusaha enjoy aja lah. Tapi sempet lho pas udah balik mau masuk backstage malah agak kesrimpet. Mana High Heelsnya tinggi get. Wuah. Nggak nyangka wes pokoknya! Tim make up dan hair stylist juga oke banget lho. Bunda Cuai dan Kak Laras yang akhirnya saling berkolaborasi membentuk mukaku yang sering terpapar sinar matahari jadi kayak gini:


Right after Fashion Show! Hahaha
Dari situ, akhirnya aku dan teman-teman lain yang merasakan hal yang sama (yang sama-sama merasa melakukan sesuatu diluar kebiasaan) merefleksikan sesuatu. Bahwa sesungguhnya yang aku lakukan ini bukan lah keluar dari zona nyaman. Tetapi justru dari SSEAYP ini aku belajar untuk meluaskan Zona Nyaman karena pada akhirnya aku merasa nyaman-nyaman saja melakukan hal-hal itu :) Make up? Ternyata berguna banget sekarang gegara udah sering make up-an pas di program. Nari? Well.. kalau ada kesempatan lagi dan aku diajak latian dulu sebelum tampil sih, bisa di pertimbangkan. Hahahaha :p. Cat walk? Ya.... bisa lah ya nyoba lagi XD
Atau mungkin ada hal-hal lain yang belum pernah aku lakukan sebelumnya? Atau pernah ku lakukan tapi perlu lebih dikembangkan? Jadi inget kata Cutkak (Indonesia National Leader) : Don't Limit Yourself.

Memang SSEAYP ini nggak diduga-duga. Bahkan sebelum berangkat pun aku dan banyak temen-temen lain masih nggak bisa kebayang lho kayak apa ini kegiatannya. Tapi setelah tau... ya gitu xD You'll never know if you never try. Jadi, silakan mencoba mumpung ada kesempatan ikut Seleksi PPAN! Psst, sayang untuk SSEAYP perwakilan Jogja cuma buat cowok aja untuk tahun 2016. Hehehhe



Salam,
Indonesia Participating Youth 2015
[ I - 53 ]

Selasa, 16 Februari 2016

Cerita SSEAYP #5 : Terima Kasih Dulu

Sebelum berangkat untuk The Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program 2015, banyak pihak lho yang ikut nge-support aku. Senang rasanya berangkat mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta, daerah sendiri, dengan didukung oleh mereka yang juga berasal dari sini :) Beberapa dari mereka berkarya dengan produk-produk handmade! Local products go International.


Terima Kasih untuk ELs Computer, 
a very recomended place to buy any Gadget inYogyakarta, Indonesia. You may visit here!



Terima Kasih untuk HS Silver,
a very recomended place to buy any silver jewelery or souvenir in the Kotagedhe, a central of silver jewelery in Yogyakarta, Indonesia. And all  the products are handmade! Check it out!



Terima Kasih untuk MadeByIcuk,
a paper quilling tecnique for any souvenir. Wedding, Graduation, Birthday, or  any souvenir for your friends or your lover because you can custom it. Psst, all the products are handmade! highly recomended :) Check their products!



Terima Kasih untuk Sentra Kerajinan Serat Alam, Tanjungharjo, Kulon Progo,
Very beautiful handmade products that came from a village in the west side of Yogyakarta, Indonesia. Those products which from the natural fiber were made by heart and it has already sold outside of Indonesia, such as Europe, US, Japan, and many more. Just a few days ago, there were order from the San Francisco. There are bags, baskets, chairs, etc. You choose. Psst, you also can custom it! So recomended for you.

Goo San and Hito San, the Admin of SSEAYP42


Terima Kasih unutk Kelompok Sekar Jatimas
An iconic Batik pattern in the north-side regency of the Special Region of Yogyakarta, Sleman, were made by the empowered women. The pattern was inspired by snake-skin-fruit's leaves that we can find it easily in Sleman. With heart and love, they create a blank cambric into this!



Terima Kasih untuk Flanello Studio,
They made a super cute cartoon figure key chain with flannel fabric. Not only Indonesia Traditional figure, but you can also make an anime figure or any other figure you want to! Check their gallery here!




Terima Kasih untuk Lells.
Here, another handmade products from Yogyakarta. A handmade pouch that you can have as a souvenir! You may see the gallery here!



Terima Kasih untuk Dzaft & Satatagama
Very nice wooden-handmade products that they have. They also make a wooden-handmade watch and also sunglasses! How cool is it, huh? Creative industry is awesome.




Terima Kasih untuk Kresna Gallery,
A woman in village that located in the west side of Yogyakarta made it! She used 2 methods to make this Batik: (1) hand-drawing in the left side and (2) hand and stamp-drawing in the right side. See? Even people in the village can produce the beautiful fabric!




Terima Kasih untuk Vis Batik,
A youthpreneur made it passionately! Wanna see their products? THIS! They make Batik into the stylish one! Wear local, go International. Let's preserve our culture!



Nggak ada yang bisa saya ucapkan kecuali ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada mereka. Mereka ini lah perwakilan para pengrajin dan pengusaha dari Yogyakarta, Indonesia. Ayo yang mau ikutan program-program pertukaran pemuda atau mahasiswa atau apapun itu, bawa hal-hal yang dapat merepresentasikan daerah kalian. Kita tunjukkan bahwa produk kita (Indonesia) nggak inovatif, menarik, dan berkualitas! #LocalProductsGoInternational #IndonesiaLocalProducts

Senin, 18 Januari 2016

Cerita SSEAYP #4 : Pengalaman Berlayar (selesai)

Dan 17 hari lagi program sudah mau selesai. Duh rasanya….

Pelabuhan terakhir
Negara yang terakhir disambangi oleh kami adalah Malaysia. Tepatnya di Sabah, Kota Kinabalu. Denger-denger sih, Nippon Maru yang membawa peserta SSEAYP ini singgah kembali di Kota Kinabalu setelah 20 tahun yang lalu. Lumayan lama ya. Perjalanan dari Yangon ke Kota Kinabalu memakan waktu 5 hari. Dan lagi-lagi, ada pirates watch saat perjalanan ini. Syukur nggak kenapa-kenapa. Eh, waktu itu kami sempet juga lho singgah sebentar di lautannya Singapura. Buat refill barang atau bahan makanan gitu. Disitu kami stay lumayan lama dan bisa melihat Sentosa Island dari kapal. Meski kaki tak bisa menjejakkan langkah di daratan bumi Singapura, tapi kalo bisa ngelihat Singapura dari posisi ini aku seneng banget. Mana disitu banyak lho kapal-kapal muatan yang berlalu lalang. Mungkin ini ya yang dibilang “jalur perdagangan dunia”. Dan nggak kebayang nenek moyang yang seorang pelaut, yang mengarungi samudra luas. They must be a super tough people.

Kapal yang refill mahan makanan. Di depan itu negeri Singapura

Sekitar jam 10 pagi tanggal 5 Desember 2015, kapal sudah merapat ke Pelabuhan. Saat itu sedang panas-panasnya. Jadi lebih seneng stay di kapal soalnya dingin. Hehehe. Hari itu juga kami ada upacara penyambutan di pelabuhan. Satu yang paling aku ingat saat di Malaysia adalah lagu Sayang Kinabalu yang liriknya “tinggi tinggi gunung Kinabalu, tinggi lagi sayang kamu”. Those lyrics stay in my head like always. Dan tariannya jug amasih membekas sampe sekarang, apalagi kalau sambil dengerin lagunya:


Kota Kinabalu adalah Port of Call terakhir. Nggak menyangka perjalanan secepat itu. 4 hari 3 malam di Kota Kinabalu rasanya kayak angin lalu. Cepat sekali. Kami harus menyudahi ini tanggal 8 Desember 2015. Tapi aku aku selalu berusaha menikmati setiap momen yang terjadi disana. Stay positive made me more grateful, and happier. Di Malaysia ini kalo aku nggak salah inget ya, sempet agak lama gitu kita mau perisapan berlayar kembali dari Malaysia ke Jepang. Jadi bikin keluargaku nunggu lama. Aku kepikiran aja pas sebelum ticker tip throwing, betapa panasnya diluar sana, betapa lamanya mereka (para keluarga angkat) nungguin kami. Setelah sekian lama nunggu, akhirnya waktu ticker tip throwing pun dimulai. Seperti biasanya, aku milih yang warna merah. Suara gong sudah terdengar. Saatnya melempar pita. Bersama mermaid sister-ku, seorang peserta dari Laos, kami bareng-bareng ngelempar pita kertasnya. Huhuhu sedih banget aku rasanya. Ada Mama, Papa, 3 sodara laki-laki (yang satu masih bayi banget, baru beberapa bulan yang lalu dia lahir ke bumi), dan satu orang adek perempuanku. Duh, sampe kudu ngelap mata yang bekaca-kaca pas nulis bagian ini. Pita kertasku dapat ditangkap dengan baik sama sodaraku. Dan akhirnya pelan pelan, kapal pun mulai meninggalkan pelabuhan. Pita yang awalnya kendor, lama-lama jadi kenceng karena saling tarik, antara aku dan sodaraku, dan kapal yang makin menjauh dari pelabuhan. Dan akhirnya, *tss” P U T U S. Ya, pita kertasnya pun putus.

Keluarga angkat di Malaysia pas lagi Open Ship

 Sejak kapal mulai menjauh, aku lihat dari deck lantai 4 mama menangis. Ketika aku liat mama disitu, yang aku ingat adalah rumah di Kampung Kebagu. Aku cuma bisa melambaikan tangan dan tersenyum senang-sedih-terharu-bahagia, tersenyum nano-nano kayak gado-gado. Akhirnya pun kapal semakin menjauh, dan orang-orang di pelabuhan pun tak lagi Nampak. Di deck itu aku ketemu sama sahabatku, namanya Rena. Kami akhirnya cuma bisa menatap senja di lautan. Sunset saat itu tak seindah biasanya. Meninggalkan segala kenangan dan keluarga baru di Malaysia. Orang-orang mulai masuk ke dalam kapal. Tapi ada juga yang masih tinggal di deck. Aku dan Rena memutuskan untuk tinggal sebentar di deck, lalu berbincang dengan tatapan menuju ke arah matahari yang tenggelam itu. Eh kok tiba-tiba ketemu si itu di deck. Haha. Jadi bahagia lagi.

Perjalanan pun akan berakhir dalam beberapa hari saja. Hanya laut China Selatan yang kami lihat. Semua air. Daratan telah pergi entah kemana. Sinyal internet sudah tak ada. Kembali berinteraksi dengan manusia di dalam kapal. Sunset indah di laut Cina Selatan aku pandang dengan takjub dan penuh rasa syukur. Kadang aku menikmati sunset itu sendirian. Sambil merenung, merefleksikan diri. Kadang sambil bikin video, kadang sambil makan dan liat sunset-nya dari ruang makan.



Suara ombak, angin yang tak kalah kuatnya, kapal yang goyang ke kanan, ke kiri, naik, turun, menjadi keseharian kami di hari-hari terakhir. Seasick Pill makin sering dikonsumsi, bahkan ada juga yang sampai terbaring lemah di kamar. Aku sendiri sempet ngerasain mabuk laut, tapi enggak sampai, maaf, muntah. Cuma perut yang nggak bersahabat, kepala yang pusing gimana gitu, dan setiap lihat makanan bawaannya pengen muntah aja. Tapi karena aku merasa tubuhku berhak untuk mendapatkan makanan, aku tetap berusaha makan meskipun sedikit. Aku nggak mau menyusahkan orang lain gara-gara nggak makan dan jadi sakit di hari-hari terakhir.
Foto bareng peserta lain negara dengan background Gunung Fuji yang tertutup awan mendung. Dingin!!
Saat sudah memasuki wilayah Jepang suhunya semakin dingin karena Jepang sudah mulai winter. Kami ngelewatin Sizuoka (bener gak ya tulisannya?) juga lho sebelum ke Tokyo. Kami tadinya mau “dipamerin” Gunung Fuji sama sang Kapten. Tapi sayangnya saat itu lagi mendung. Jadi gunungnya, terutama puncaknya, nggak begitu keliatan. Aku Cuma bisa memandang aja. Mau difoto bingung juga karena nggak ada keliatan itu gunung Fuji. Kalo nanti dishare dan bilang kalo itu Gunung Fuji, nggak ada yang percaya nanti. Hahaha.

Mendung saat Ms. Nippon Maru menepi kembali di Tokyo Harbour. And it was cold.

Tanggal 15 Desember 2015. Sehari sebelum kami pulang. Kapal sudah menepi di Pelabuhan Internasional Tokyo. Pelabuhan tempat kami memulai perjalanan pertama kami, dan akhirnya harus berakhir disini pula. Cerita panjang selama mengarungi lautan ini sebanyak ini belum dapat menggambarkan SSEAYP seutuhnya. *Ngelap air mata dulu ya.*

Dari kiri ke kanan: Rena (Japan), Happy (Vietnam), seorang petinggi di kapal tapi aku lupa nama dan posisinya apa, THE CAPTAIN, Aku, Ana (Vietnam)
A Day Before Leaving the Ship, and Japan......

Aku pikir, dan banyak orang lain yang juga mikir bahwa inlah yang membuat program pertukaran ini beda sama program pertukaran lainnya. Kehidupan dan perjalanan di atas Kapal sungguh istimewa. Tunggu cerita-cerita SSEAYP lainnya! 

Cerita SSEAYP #3 : Pengalaman Berlayar (2)

Dari Filipina ke Vietnam, perjalanannya tidak begitu jauh kok. Cuma 2 hari aja. Kami disambut meriah di pelabuhan saat kapal mulai merapat. Sambutan baik dari pemerintah setempat, yang juga mengerahkan ratusan pemuda/I untuk menjadi pendamping kami selama ada kunjungan ke lembaga maupun homestay. 5 hari kami habiskan di Ho Chi Minh City. Pengalaman asik kami temui disitu. Dari yang naik motor, kalo jalan-jalan ke berbagai tempat wisata pasti ketemu sesama peserta, sampai ada juga lho yang anak di keluarga angkatnya suka sama salah satu peserta.

Setiap mau keluar Pelabuhan, harus pake kartu ini (Landing Card)

Ini Mae-ku. Bedanya disana sama di Indonesia adalah helmnya. Kalo helm di Vietnam itu model Helm yang setengah kepala aja, kayak di Indonesia beberapa tahun yang lalu sebelum helm SNI sekarang.

Tanggal 21 November 2015, saatnya perpisahan. Dan dengan kegiatan yang sama: ticker tip throwing. Enggak tau kenapa, meninggalkan Ho Chi Minh City rasanya berat banget. Bahkan ketika pita ini menghubungkan antara aku, keluarga angkatku, dan Local Youth yang selalu menemani aku dan homestaymete aku jalan-jalan, aku nggak mau ini terputus. Apa yang aku bisa lakukan? Nggak ada. Aku Cuma bisa menangis dan melambaikan tangan ke mereka sampai aku nggak bisa lagi melihat mereka dari kapal yang menjauh. Sedih? Iya…. Tapi gimana lagi. Disitu aku merasa belum bisa mengendalikan diriku, emosiku. Padahal kami masih bisa keep in touch lho. Facebook account udah ada. Apa sebabnya? Tunggu ceritanya ya!

Adek angkatku (tengah), adek sepupu aku (kanan)

Makan bareng sekeluarga di tempat makan vegetarian

Lihat ada 2 orang pakai kaos merah? Ya, dia mae dan adekku. Samping kirinya adalah Local Youth yang menenin aku sama homestay-mate aku selama di Ho Chi Minh City. Sayang fotonya blur. Ini keadaan pas ticker tip throwing

Lelah bersedih-sedih, aku akhirnya menikmati saja apapun yang terjadi di kapal, just have fun. Perjalanan selanjutnya adalah… MYANMAR! Sebuah Negara yang aku paling nggak amu berekspektasi. Cerita dari alumni tentang Myanmar yang kurang baik membuatku, dan juga kontingen Indonesia secara keseluruhan untuk santai, relax, dan nggak usah mikir aneh-aneh. Just enjoy everything.

Perjalanan di Myanmar ini paling seru dalam arti sesungguhnya. Gimana enggak? Dalam 4  setengah hari perjalanan (setengah hari itu artinya kami nyampe di Myanmar pada sore hari. Ehehe) ada 2 hari terjadi Pirates Watch. Woops, pirates? Ya. Bajak laut. BANYANGKAN.

Jadi ceritanya di Selat Malaka itu masih cukup rawan untuk terjadi pembajakan kapal. Untuk mencegah itu, awak kapal selalu mengunci pintu-pintu menuju ke deck kapal mulai jam 9 malam hingga pagi hari. Enggak ada yang boleh keluar pas jam segitu. Kecuali dia mau kekunci sampe pagi. Aku sih ogah. Haha. Jadi jam-jam segitu ada awak kapal juga yang jaga diluar kapal. Sebelum ini terjadi, Kapten Kapal udah pernah bilang sama para peserta kalo akan dilakukan Pirates Watch. Tapi kami ditenangkan karena beliau bilang kalo dengan kapal segede dan sebanyak ini orangnya, pirates mikir-mikir juga kalau mau ngebajak. Aku sih sebenernya agak excited tapi agak waswas jgua setelah dijelasin sama Kapten. Disatu sisi kebayang aja gimana kalo beneran liat bajak laut yang masuk ke kapal, terus ngebajak kapalnya, disisi lain ngeri juga kalau kapalnya dibajak, gimana hidupku nanti. Hiiii. Syukur banget 2 hari itu berlalu dengan baik. Aman. Thank God. Thank you Captain, Thank you Ship Crews.

Sunset cantik saat merapat di Pelabuhan Yangon, Myanmar
Saat merapat di Yangon (baca: Yangong), Myanmar (Baca: Myanmaa), saat itu sudah sore. Kami disuguhi sunset cantik diatas kapal. Indah sekali rasanya. Aku pun rasanya pengen dengerin lagu-lagu galau biar suasananya dapet banget. Hahaha. Tapi, bayanganku tentang suasana galau itu nggak terjadi sesuai kenyataan karena saat itu Kontingen Indonesia sedang latian Flag Cheers dan persiapan untuk penampilan di acara penyambutan sekaligus makan malam. No Galau! Hahaha. Well, Myanmar adalah negara yang paling nggak terduga. Dan waktu homestay yang hanya 1 malam saja…. Itu rasanya sangat amat kurang.

Pada tanggal 29 November 2015, setelah 4 hari 3 malam berada di Yangon, Myanmar, saatnya perjalanan dimulai kembali. Kali ini, aku tidak melakukan ticker tip throwing karena keluargaku tidak dapat hadir di ticker tip throwing karena ada acara lain. Namun nggak masalah. Berkat keluargaku, aku merasa Myanmar memberiku kesan yang nggak kalah asik. I really want to go back to Myanmar.

In Swedagong Pagoda. I really want to go back to Myanmar!
(to be continue)

Rabu, 30 Desember 2015

Remind It, Girl


This is a journey..
an extra ordinary journey for a girl who never get out of her land, her mother land
the most challenging journey she ever had
the journey where a crowd of people gather along,
in the unknown places she had never knew before

Somepeople said it is a once in a life time journey,
Some people said it is a life changing experiences
Some people said it is a life where everthing could be happen..
But she said, it is a journey finding the true life..
the life as a human, the life of nature, and the life where we have to respect even in the small things.

Memories come everytime, every second,
it will never gone until she realizes that this is new spirit,
not just a memory that appears and make her down because it won't happen the same..
Memories come,
The spirits come along the way,
She's coming home,
with a lot of new memories, and super a lot of new spririts...
Let's get on fire!


[I-53]

Rabu, 01 Juli 2015

The Memorable Opa Awi



diambil dari sini


Beliau adalah seorang fotografer lapangan. Setiap ada pertandingan basket nasional, mudah sekali melihat beliau asyik memotret setiap momen pertandingan, baik didalam maupun diluar lapangan. Awigeno Soesanto atau yang akrab dipanggil Opa Awi ini adalah sosok yang memorable disetiap pertandingan. Banyak atlet basket daerah yang pernah mencicipi laga atau kejuaraan di tingkat nasional, mengetahui tahu bahkan mengenal sosok beliau.

Saya tidak tahu dimana beliau tinggal, saya tidak tahu sejak kapan beliau menekuni kegiatan memotret itu. Bahkan baru tahu namanya ketika mendapatkan kabar bahwa beliau telah tiada. Tetapi yang saya tahu, beliau adalah sosok yang menekuni apa yang disukainya meskipun jaman sudah berubah. Unik.

Tepatnya hari Jumat, tanggal 8 Mei 2015, berita duka dan mengagetkan itu muncul. Kakek berumur 67 tahun ini meninggal dunia tertabrak kereta di perlintasan kereta api dekat Stasiun Palmerah, Jakarta . Banyak ucapan dan doa mengiringi kepergian beliau. Untuk kali ini, saya merasa dunia basket Indonesia kehilangan orang yang inspiratif lintas generasi - meskipun bukan sebagai pemain basket.

Selamat jalan Opa Awi, kehadiranmu disetiap event basket tingkat nasional akan dikangeni oleh banyak orang… terutama orang-orang yang pernah melihat kehadiranmu, sebelum Opa pergi meninggalkan dunia ini.

Rabu, 19 Desember 2012

Meet the DBL Selection (Girls Team)

Good Afternoon! How are you all doing now?Well, i bet you all have known about DBL (Development Basketball League) which is the LARGEST student basketball championship in Indonesia. yes yes yeeeesss \m/
Pada akhirnya, para first team dari berbagai daerah di Indonesia akan dipilih lagi sampai ketemu the best 12 players, for each team (boys and girls). Kemarin, kalo nggak salah tanggal 7 November 2012, udah berangkat tuh DBL All Star 2012 nya. ke Seattle lagi meeeen (kayak taun lalu). Ahh, jadi agak makjleb.
Pada dasarnya, All Star itu bener-bener best 12 players in Indonesia yang ikut pertandingan DBL di masing-masing kota itu. Tapi jangan salah, masih ada rangkaian kegiatan DBL lainnya loh. Yaitu DBL Selection team. jadi pemain-pemain yang nggak ikut All Star, bisa lho dapet kesempatan pergi ke luar negeri, Australia cuy! Tapi ada beberapa dari mereka itu diambil dari tim All Starnya. Berhubung saya paling suka ngebahas tim basket putri, soooo meet the DBL Selection girls team yuk!

As a Captain: GABBY VALENCIA WIDJAJADI (Guard)

the red jersey
 
SMA Stella Duce 1 Jogjakarta
DI Jogjakarta Series
Born : Bandung, 10 Mei 1995.
SATU-SATUNYA DARI JOGJA, JADI KAPTEN PULA!! I'm proud of you, Gab!
Fyi, dia kemarin juga All Star. Dan lagi-lagi, satu-satunya dari Jogja men!!

CHRISTIE APRIYANI RUMAMBY (GUARD)
 
 
SMAN 116 Jakarta
DKI Jakarta Series
Born : Jakarta, 5 April 1996
 
SARTIKA DEWI (GUARD)
 

SMA St. Louis 1 Surabaya
East Java Series
Born : Surabaya, 19 April 1996
 
DITA ARIYANI (GUARD)

the white jersey
 
SMAN 36 Jakarta
DKI Jakarta Series
Born : Jakarta, 19 Desember 1995
 
DESAK NYOMAN KUTHA RATNA G.W. (GUARD)


SMAN 1 Denpasar
Bali Series
Born : Gianyar, 21 Desember 1995
 
SVETLANA MAHARANIPUTRI Y. (FORWARD)


SMAN 70 Jakarta
DKI Jakarta Series
Born : Jakarta, 28 Februari 1995
 
KANIA PUSPITA DEWI (FORWARD)
 
 
SMAN 2 Bandung
West Java Series
Born : Bandung, 14 September 1995
 
ADELLA (FORWARD)


SMA Pahoa Tangerang
Banten Series
Born : Jakarta, 12 Juni 1995
 
RAYINDA ANDRAYANI PUTRI C. (FORWARD)


SMAN 8 Bekasi
West Java Series
Born : Jakarta, 1 Maret 1995
 
KADEK PRATITA CITTA DEWI (FORWARD)
 

 
SMAN 1 Denpasar
Bali Series
Born : Denpasar, 13 Agustus 1995
Fyi, dia kemarin juga masuk All Star dua kali berturut-turut (2011 dan 2012)
 
SYELNA (CENTER)


SMA Santu Petrus Pontianak
West Kalimantan Series
Born : Jakarta, 6 Februari 1995
 
VONNY HANTORO (CENTER)
 
 
SMA St. Louis 1 Surabaya
East Java Series
Born : Surabaya, 15 Juli 1995
 
Yeaaah, mungkin kelak mereka akan menjadi generasi penerus bola basket wanita di Indonesia. Semoga dari DBL Selection ini, mereka bisa mengharumkan nama bangsa dan tetep semangat untuk jadi pemain masa depan Indonesia. Chao!